Masih mengenai demokrasi karena saya kebetulan sedang mempelajari beberapa artikel yang berhubungan dengan demokrasi.
Ada kenyataan dalam politik Indonesia bahwa demokratisasi yang berlangsung sejak 1 dasawarsa terakhir belum mampu mengurangi tingkat korupsi, malah seakan memperluas korupsi.
“Its nature, causes and functions” – Syed Husein Alatas.
Kenyataan bahwa korupsi sebagai pelicin, uang semir, uang rokok yang melancarkan urusan perizinan di pemerintahan dan lembaga publik. Di negara berkembang, korupsi rumit karena banyak yang mengakui kontribusinya bagi pembangunan.
Namun, ada sebuah mitos tentang korupsi, Sri Mulyani pernah mengatakan bahwa pemberantasaan korupsi (anti-korupsi) yang terlalu agresif bisa mengganggu kinerja dan pertumbuhan ekonomi. Sejumlah pejabat lokal, khususnya daerah menjadi enggan mengambil keputusan yang dibutuhkan bagi pembangunan daerah dikarenakan kebijakan antikorupsi yang terlalu agresif. Akibatnya, pejabat lokal lebih suka menyimpan uang APBD dalam SBI maupun memutarnya di pasar modal daripada digulirkan dalam bentuk pembangunan.
hm,,,,
BalasHapusMenarik,...
agak mengelitik,...
ingin rasanya diskusi masalah ini lebih lanjut dengan penulis,....